Penulis:
Herman J. Warouw, Hendrik H. Damping, Jon W. Tangka
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Manado
Kasus diabetes mellitus terus mengalami peningkatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global karena dapat memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga gangguan saraf apabila tidak ditangani secara optimal. Diabetes mellitus terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin secara cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif sehingga kadar gula darah meningkat di atas normal. Menurut World Health Organization, diabetes telah masuk dalam sepuluh besar penyebab kematian dunia dan mengalami peningkatan signifikan sejak tahun 2000. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian kadar glukosa darah menjadi langkah penting dalam mencegah komplikasi jangka panjang pada penderita diabetes mellitus.
Di Indonesia, prevalensi diabetes mellitus juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa Sulawesi Utara termasuk salah satu daerah dengan angka kejadian diabetes mellitus yang cukup tinggi. Penderita diabetes didominasi oleh kelompok usia lanjut, terutama perempuan dengan rentang usia 65–74 tahun. Tingginya angka kejadian ini menjadi perhatian serius karena sebagian besar pasien memerlukan pengelolaan jangka panjang untuk menjaga kestabilan kadar gula darah agar tetap dalam batas normal.
Selama ini, pengendalian diabetes mellitus lebih banyak dilakukan melalui terapi farmakologi seperti pemberian insulin dan obat penurun gula darah. Namun, pendekatan nonfarmakologi juga mulai banyak dikembangkan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Salah satu metode yang kini mendapat perhatian adalah terapi pijat refleksi kaki. Pijat refleksi merupakan teknik pemijatan tradisional yang dilakukan dengan memberikan tekanan pada titik-titik tertentu di telapak kaki yang diyakini berhubungan dengan organ tubuh lainnya. Menurut Handoko (2011), pijat refleksi dilakukan dengan menekan saraf dan titik refleksi tubuh untuk membantu meningkatkan keseimbangan fungsi organ serta memperlancar sirkulasi darah.
Terapi pijat refleksi kaki dipercaya mampu memberikan efek relaksasi sekaligus membantu memperbaiki metabolisme tubuh. Saat tubuh berada dalam kondisi rileks, hormon stres dapat menurun sehingga sensitivitas insulin menjadi lebih baik. Selain itu, pijat refleksi juga membantu melancarkan aliran darah dan merangsang sistem saraf sehingga tubuh lebih optimal dalam memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi. Toruan (2012) menjelaskan bahwa terapi refleksi dapat membantu tubuh mencapai keseimbangan hormonal dan memperbaiki fungsi organ melalui stimulasi titik tertentu pada kaki maupun tangan.
Manfaat pijat refleksi dalam pengendalian diabetes juga diperkuat oleh beberapa penelitian sebelumnya. Penelitian Musiana et al. (2015) menemukan adanya perbedaan signifikan kadar glukosa darah antara kelompok pasien diabetes mellitus yang mendapatkan terapi pijat refleksi dengan kelompok yang tidak mendapatkan terapi tersebut. Hasil serupa juga ditemukan oleh Rahmawati (2018) yang menunjukkan bahwa pijat refleksi pada telapak kaki dan pangkal ibu jari tangan dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus tipe 2. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi komplementer dapat menjadi pendukung penting dalam pengelolaan penyakit kronis seperti diabetes mellitus.
Penelitian mengenai terapi pijat refleksi kaki juga dilakukan di Instalasi Gawat Darurat Non Trauma RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan teori keperawatan Dorothea Orem yang menekankan pentingnya self care atau perawatan mandiri pasien. Dalam teori ini, pasien didorong untuk aktif menjaga kesehatannya sendiri dengan dukungan tenaga kesehatan sebagai pendidik dan pendamping. Pendekatan ini dinilai relevan bagi pasien diabetes mellitus karena pengendalian penyakit sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam menjalani pola hidup sehat dan pengobatan secara rutin.
Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus terhadap empat pasien diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami peningkatan kadar glukosa darah. Seluruh responden menjalani terapi pijat refleksi kaki selama 15–20 menit dengan pengukuran kadar gula darah sebelum dan sesudah terapi dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah pada seluruh responden setelah mendapatkan terapi pijat refleksi kaki. Pada pasien Ny. L.K, kadar gula darah turun dari 212 mg/dL menjadi 205 mg/dL. Pasien Ny. Y.S mengalami penurunan dari 195 mg/dL menjadi 182 mg/dL. Sementara pasien Ny. V.T mengalami penurunan dari 245 mg/dL menjadi 237 mg/dL, dan pasien Ny. D.B mengalami penurunan dari 201 mg/dL menjadi 196 mg/dL.
Selain terjadi penurunan kadar glukosa darah, para pasien juga mengaku merasa lebih rileks dan nyaman setelah mendapatkan terapi pijat refleksi kaki. Kondisi relaksasi ini menjadi faktor penting dalam pengendalian diabetes mellitus karena stres dapat memicu peningkatan hormon kortisol yang berpengaruh terhadap naiknya kadar gula darah. Dengan tubuh yang lebih rileks, metabolisme menjadi lebih stabil sehingga pengendalian glukosa darah dapat berlangsung lebih optimal. Temuan ini memperlihatkan bahwa terapi pijat refleksi tidak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga mendukung kesehatan psikologis pasien diabetes mellitus.
Pendekatan teori Dorothea Orem dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa pasien perlu dilibatkan secara aktif dalam proses perawatan dirinya sendiri. Perawat tidak hanya berperan memberikan tindakan medis, tetapi juga menjadi edukator yang membantu pasien memahami cara menjaga kesehatannya secara mandiri. Edukasi mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, pengelolaan stres, hingga terapi pendukung seperti pijat refleksi menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian diabetes mellitus secara menyeluruh.
Terapi pijat refleksi kaki dapat menjadi alternatif terapi komplementer yang mudah dilakukan, aman, dan relatif murah bagi penderita diabetes mellitus tipe 2. Meski demikian, terapi ini tetap perlu dilakukan secara tepat dan tidak menggantikan pengobatan medis utama yang diberikan dokter. Kombinasi antara pengobatan medis, pola hidup sehat, serta terapi komplementer yang tepat dapat membantu pasien mencapai kualitas hidup yang lebih baik dan mencegah komplikasi diabetes mellitus di masa mendatang.
Referensi:
- Anies (2018). Penyakit Degeneratif Buku Ajar Kedokteran & Kesehatan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
- Handoko (2011). Pengobatan dengan Pijat Refleksi dan Herbal. Yogyakarta: Buku Pintar
- Kementerian Kesehatan RI (2018). Prevelensi diabetes terdiagnosis di Sulawesi Utara. 2013. Di akses pada tanggal 15 Januari 2023. http://repository.bkpk.kemkes.go.id
- WHO (2020). Diakses pada 15 Januari 2023. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/the-to-10-causes-of-death
- Musiana (2015). Penelitian Efektivitas Pijat Refleksi Terhadap Pengendalian Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Millitus. Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Tanjung Karang.
- Rahmawati, Y. (2018). Analisis Praktek Klinik Keperawatan Dengan Intervensi Inovasi Terapi Pijat Refleksi Pada Telapak Kaki Dan Pangkal Ibu Jari Tangan Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Millitus Type II Di Ruang

