One Media Global

Oral Motor Exercise: Terapi Sederhana yang Membantu Bayi Berat Lahir Rendah Belajar Menghisap

Penulis:
Esther N. Tamunu, Tati S. Ponidjan, Devina Lutam, Ellen Pesak, Kusmiyati, Tinneke Tololiu
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Manado

 

Setiap bayi yang lahir membawa harapan besar bagi keluarga. Namun, tidak semua bayi memulai kehidupan dengan kondisi yang ideal. Salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan neonatal adalah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yaitu bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram. Kondisi ini bukan sekadar persoalan angka pada timbangan, tetapi berkaitan erat dengan risiko gangguan kesehatan, pertumbuhan, bahkan keselamatan hidup bayi.

Salah satu masalah yang paling sering dialami bayi BBLR adalah belum optimalnya kemampuan menghisap (sucking reflex). Padahal, kemampuan menghisap merupakan keterampilan dasar yang menentukan apakah bayi dapat memperoleh nutrisi secara optimal. Tanpa asupan nutrisi yang cukup, proses pertumbuhan dan perkembangan bayi akan terhambat, bahkan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga kematian neonatal.

BBLR Masih Menjadi Tantangan Kesehatan

Berat badan lahir merupakan indikator penting dalam menentukan kondisi kesehatan bayi. Bayi dengan berat lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai gangguan dibandingkan bayi dengan berat lahir normal. Organ-organ tubuh yang belum matang akibat usia kehamilan kurang dari 37 minggu menyebabkan bayi lebih rentan mengalami gangguan pernapasan, infeksi, hipotermia, hingga gangguan koordinasi antara refleks menghisap dan menelan.

Data yang dipaparkan dalam penelitian menunjukkan bahwa BBLR masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian neonatal, baik secara global maupun di Indonesia. Kondisi ini menjadikan upaya peningkatan kualitas pelayanan neonatal sebagai prioritas dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Mengapa Kemampuan Menghisap Sangat Penting?

Menghisap bukanlah aktivitas sederhana bagi bayi prematur atau BBLR. Proses ini melibatkan koordinasi yang kompleks antara otot bibir, lidah, rahang, tenggorokan, dan sistem pernapasan. Pada bayi dengan kondisi prematur, koordinasi tersebut sering kali belum berkembang secara sempurna.

Akibatnya, bayi kesulitan menerima ASI ataupun susu secara langsung. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi sehingga berat badan sulit meningkat dan masa perawatan di rumah sakit menjadi lebih lama.

Di sinilah tenaga kesehatan, khususnya perawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), memiliki peran penting dalam memberikan intervensi yang mampu menstimulasi perkembangan fungsi oral bayi.

Oral Motor Exercise: Intervensi Non-Invasif yang Menjanjikan

Salah satu intervensi yang kini banyak diterapkan adalah Oral Motor Exercise (OME) atau latihan stimulasi oral motor. Terapi ini dilakukan melalui stimulasi lembut pada bibir, pipi, lidah, gusi, rahang, dan rongga mulut untuk merangsang koordinasi otot-otot yang berperan dalam proses menghisap.

Latihan ini bersifat sederhana, tidak menimbulkan rasa sakit, dan dapat dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan.

Dalam praktiknya, stimulasi diberikan sekitar 15 menit sebelum pemberian nutrisi, dengan durasi sekitar 5 menit, sehingga bayi memiliki waktu yang cukup untuk merespons stimulasi sebelum mulai menyusu.

Penelitian di NICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Poltekkes Kemenkes Manado menggunakan pendekatan studi kasus terhadap empat bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah yang dirawat di ruang NICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

Seluruh bayi memiliki karakteristik yang serupa, yaitu lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram, usia kehamilan di bawah 37 minggu, serta mengalami kelemahan refleks menghisap dan menelan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap bayi memperoleh terapi Oral Motor Exercise satu kali sehari sebelum pemberian nutrisi. Selain terapi tersebut, bayi tetap memperoleh asuhan keperawatan sesuai kebutuhan klinis masing-masing.

Hasil yang Menggembirakan

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh bayi mengalami peningkatan kemampuan menghisap setelah mendapatkan Oral Motor Exercise selama tiga hari.

Perbaikan refleks menghisap menjadi indikator bahwa stimulasi oral mampu membantu bayi mempersiapkan diri menerima nutrisi secara lebih efektif. Dengan kemampuan menghisap yang semakin baik, peluang bayi memperoleh asupan nutrisi yang cukup juga meningkat, sehingga mendukung pertumbuhan dan proses pemulihan mereka.

Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang juga menyatakan bahwa stimulasi oral efektif meningkatkan refleks menghisap pada bayi prematur maupun bayi BBLR.

Peran Penting Perawat dalam Keberhasilan Terapi

Keberhasilan Oral Motor Exercise tidak hanya bergantung pada teknik yang digunakan, tetapi juga pada ketelitian tenaga kesehatan dalam melakukan observasi dan evaluasi secara berkelanjutan.

Perawat menjadi profesi yang memiliki posisi strategis dalam mengidentifikasi masalah nutrisi, melakukan stimulasi oral secara tepat, memantau respons bayi, serta bekerja sama dengan dokter dan keluarga dalam mendukung keberhasilan perawatan neonatal.

Intervensi ini juga menunjukkan bahwa pelayanan keperawatan modern tidak hanya berfokus pada tindakan medis, tetapi juga pada pendekatan terapeutik yang aman, berbasis bukti ilmiah, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.

Harapan bagi Pelayanan Neonatal

Oral Motor Exercise memberikan harapan baru dalam meningkatkan kualitas pelayanan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah. Intervensi sederhana ini terbukti mampu membantu bayi mengembangkan kemampuan menghisap sehingga kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi secara lebih optimal.

Meskipun penelitian ini masih terbatas pada empat kasus, hasilnya memberikan gambaran bahwa penerapan Oral Motor Exercise layak dipertimbangkan sebagai bagian dari praktik keperawatan neonatal di ruang NICU. Penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar tentu diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah mengenai efektivitas terapi ini.

Pada akhirnya, setiap peningkatan kecil dalam kemampuan menghisap seorang bayi BBLR merupakan langkah besar menuju kehidupan yang lebih sehat. Dengan dukungan tenaga kesehatan yang kompeten, intervensi berbasis bukti seperti Oral Motor Exercise dapat menjadi salah satu upaya nyata dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian neonatal di Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agung Ayu Winda P., A., & Tirtawati, D. (2024). Pengaruh Oral Motor Stimulation terhadap Kemampuan Mengisap pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSUP Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah Denpasar Bali. Jurnal Terapi Wicara Dan Bahasa, 2(2), 787–796. https://doi.org/10.59686/jtwb.v2i2.118

Caron, J., & Markusen, J. R. (2023). Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Kementrian Kesehatan Indonesia, 1-23. Available at: https://gizikia.kemenkes.go.id/assets/file/pedoman/LAKIP GIKIA TA 2023. pdf.

Erni Wahyuni, U. Kalsum, dan I. Nur Imamah (2023) The Effect OF Pree-Feeding Oral Stimulation on The Sucking Ability of LBW Babies in The NICU Room.  https://kesans.rifainstitute.com/index.php/kesans/article/view/195. 2(12), 1009–1019. DOI: https://doi.org/10.54543/kesans.v2i12.195

Maghfuroh, L., Nurkhayana, E., Ekawati, H., Eko Martini, D., & Kusbiantoro, D. (2021). Oral MotorMeningkatkan Reflek Hisap Bayi Bblr Di Ruang Nicu Rs Muhammadiyah Lamongan. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 62-67. https://doi.org/10.34035/jk.v12il.571.

Novitasari, A., Hutami, M. S., & Pristya, T. Y. R. (2020). Pencegahan dan Pengendalian BBLR Di Indonesia: Systematic Review.175-182. http://doi.wiley.com/10.1002/14651858.

Rustina, Y., & Syahreni, E. (2021). Penerapan Model Konservasi Levine Pada Bayi Prematur Matur Dengan Intoleransi Minum. Keperawatan Anak, 1(2), 65–72.

Sari, A. P., Romlah, I., & Anita, T. (2021). Faktor Maternal Terhadap Kejadian Bblr. 5(1), 1-5.

Shafa, L. A., & Triana, N. Y. (2022). Efektivitas Pemberian Oral Motor Exercise Terhadap Reflek Hisap Pada Bblr Preterm. Jurnal Inovasi Penelitian, 3(2), 4973-4974.

Suarni, S., Wardani, D. A., Sinaga, S., & Suwanto, S. (2024). The Effectiveness of Oral Stimulation on the Suction Reflex in LBW Babies in the Perinatology Room at RSUD dr. Abdul Rivai Berau. Journal of Midwifery and Nursing, 6(2), 496–505. https://doi.org/10.35335/jmn.v6i2.5015.

Ummah, M. S. (2022). Profil Kesehatan Ibu Dan Anak 2022. Sustainbility

(Switzerland), 11(1), 1-14.

UNICEF (2025). Low birthweight – UNICEF DATA. Available at: https//data.unicef.org/topic/nutrion/low-birthweight/.

Wahyuni, E., Kalsum, U., & Nur Imamah, I. (2023). The Effect of Pre-Feeding Oral Stimulation on The Sucking Ability of LBW Babies in The NICU Room. KESANS : International Journal of Health and Science, 2(12), 1009–1019. https://doi.org/10.54543/kesans.v2i12.195.

World Health Organization. (2025). Low birth weight. Available. At: https://www.who.int.data/nutrion/nlis/info/low-birth-wieght/.

 

Exit mobile version