Site icon One Media Global

Melawan TBC dari Meja Makan: Ketika Gizi Menjadi Kunci Kesembuhan

Melawan TBC dari Meja Makan: Ketika Gizi Menjadi Kunci Kesembuhan

Penulis:

Elne Vieke Rambi, S.Pd., M.Si.
Mahasiswa Program Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar

Tuberkulosis atau TBC selama ini lebih sering dipahami sebagai penyakit infeksi paru yang ditandai batuk berkepanjangan, dahak berdarah, dan pengobatan dalam waktu lama. Padahal, di balik tingginya angka TBC, terdapat persoalan mendasar yang sering luput dari perhatian, yakni masalah gizi. Banyak pasien TBC bukan hanya berjuang melawan bakteri, tetapi juga melawan kondisi tubuh yang lemah akibat asupan makanan yang tidak memadai.

Persoalan ini penting dibahas karena Indonesia masih menghadapi beban TBC yang sangat besar. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 10 juta orang di dunia menderita TBC setiap tahun dan jutaan lainnya meninggal akibat penyakit ini. Indonesia bahkan menempati posisi kedua dunia dengan jumlah kasus TBC tertinggi setelah India. Fakta tersebut menunjukkan bahwa TBC bukan hanya persoalan medis, melainkan juga berkaitan erat dengan kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan ketahanan pangan masyarakat.

Selama ini, strategi penanggulangan TBC lebih banyak difokuskan pada penemuan kasus, pemeriksaan laboratorium, dan kepatuhan minum obat. Langkah tersebut memang penting karena pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan tinggi selama minimal enam bulan. Namun, ada satu aspek yang sering diperlakukan sebagai pelengkap, padahal sangat menentukan keberhasilan terapi, yaitu status gizi pasien.

Tubuh manusia membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup untuk melawan infeksi. Ketika seseorang mengalami kekurangan gizi, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah sehingga bakteri TBC lebih mudah berkembang. Sebaliknya, ketika seseorang sudah terkena TBC, kondisi tubuh biasanya semakin menurun akibat hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, kelelahan berkepanjangan, dan gangguan metabolisme tubuh. Akibatnya, pasien masuk dalam lingkaran yang berbahaya: kurang gizi meningkatkan risiko TBC, sementara TBC memperparah kondisi kurang gizi.

Inilah alasan mengapa gizi seharusnya menjadi bagian utama dalam strategi eliminasi TBC di Indonesia. Kesembuhan pasien tidak cukup hanya diukur dari keteraturan mengonsumsi obat, tetapi juga dari kemampuan tubuh untuk pulih kembali. Pasien yang memiliki status gizi baik cenderung lebih kuat menjalani pengobatan, lebih cepat membaik, dan memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan kondisi gizi buruk.

Sayangnya, persoalan gizi pada pasien TBC masih sering diabaikan dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari. Tidak sedikit pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dengan kondisi berat badan menurun drastis, tetapi hanya mendapatkan terapi obat tanpa pendampingan gizi yang memadai. Padahal, WHO telah menegaskan bahwa setiap pasien TBC seharusnya mendapatkan penilaian status gizi dan konseling makan sejak awal diagnosis hingga proses pengobatan selesai.

Pendekatan ini sangat relevan diterapkan di Indonesia, terutama pada masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Dalam banyak kasus, TBC muncul pada keluarga yang hidup dalam kondisi padat, sanitasi kurang baik, dan akses pangan bergizi yang terbatas. Karena itu, upaya pengendalian TBC seharusnya tidak hanya berfokus pada individu yang sakit, tetapi juga memperhatikan kondisi keluarga secara menyeluruh.

Di tingkat pelayanan primer, langkah tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan sederhana. Puskesmas dan kader kesehatan dapat memasukkan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, serta riwayat penurunan berat badan sebagai bagian dari layanan TBC rutin. Konseling makan berbasis pangan lokal juga perlu diperkuat agar pasien memahami pentingnya asupan protein, energi, vitamin, dan mineral selama masa pengobatan.

Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemulihan pasien TBC. Ikan, telur, tempe, tahu, kacang-kacangan, sayuran hijau, jagung, ubi, dan buah-buahan lokal merupakan sumber gizi yang baik dan relatif mudah dijangkau masyarakat. Edukasi tentang pengolahan makanan sehat perlu diberikan agar keluarga pasien dapat menyediakan makanan bergizi dengan biaya yang terjangkau.

Selain itu, dukungan sosial juga memiliki peran penting. Banyak pasien TBC mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan produktivitas kerja selama sakit. Dalam kondisi seperti ini, bantuan pangan atau program dukungan nutrisi dapat membantu pasien mempertahankan status gizinya selama menjalani pengobatan. Bila aspek ini diabaikan, risiko putus obat dan kegagalan terapi akan semakin tinggi.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki dasar hukum yang cukup kuat melalui Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Regulasi tersebut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya eliminasi TBC. Namun, tantangan terbesar terletak pada implementasi di lapangan. Program gizi dan program TBC masih sering berjalan sendiri-sendiri sehingga dampaknya belum optimal.

Ke depan, Indonesia perlu membangun pendekatan yang lebih terintegrasi melalui konsep “Gizi-TBC”. Pendekatan ini dapat mencakup skrining gizi sejak diagnosis awal, pemantauan berat badan selama terapi, edukasi makan sehat berbasis pangan lokal, hingga dukungan pangan bagi keluarga rentan. Dengan demikian, keberhasilan pengobatan tidak hanya dilihat dari hasil laboratorium, tetapi juga dari membaiknya kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

Media massa juga memiliki peran penting dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap TBC. Selama ini, stigma terhadap pasien TBC masih sangat tinggi. Banyak penderita merasa malu, takut dikucilkan, bahkan enggan memeriksakan diri karena khawatir mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Edukasi publik perlu menekankan bahwa TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan dan pasien membutuhkan dukungan, bukan diskriminasi.

Pada akhirnya, perang melawan TBC tidak cukup dilakukan hanya di ruang pemeriksaan atau laboratorium kesehatan. Perjuangan itu juga dimulai dari rumah, dari dapur keluarga, dan dari meja makan sehari-hari. Sepiring makanan bergizi bukan sekadar pelengkap terapi, tetapi bagian penting dari proses penyembuhan.

Jika Indonesia ingin serius mengakhiri TBC pada masa depan, maka intervensi gizi harus ditempatkan sebagai prioritas, bukan tambahan. Sebab, di balik setiap pasien TBC, ada kebutuhan dasar yang tidak boleh diabaikan: tubuh yang kuat, makanan yang layak, dan kehidupan yang lebih bermartabat.

Exit mobile version