OMG News
light_mode
Beranda » Opini » Melawan TBC dari Meja Makan: Ketika Gizi Menjadi Kunci Kesembuhan

Melawan TBC dari Meja Makan: Ketika Gizi Menjadi Kunci Kesembuhan

  • account_circle OMG
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • visibility 42
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penulis:

Elne Vieke Rambi, S.Pd., M.Si.
Mahasiswa Program Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar

Tuberkulosis atau TBC selama ini lebih sering dipahami sebagai penyakit infeksi paru yang ditandai batuk berkepanjangan, dahak berdarah, dan pengobatan dalam waktu lama. Padahal, di balik tingginya angka TBC, terdapat persoalan mendasar yang sering luput dari perhatian, yakni masalah gizi. Banyak pasien TBC bukan hanya berjuang melawan bakteri, tetapi juga melawan kondisi tubuh yang lemah akibat asupan makanan yang tidak memadai.

Persoalan ini penting dibahas karena Indonesia masih menghadapi beban TBC yang sangat besar. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 10 juta orang di dunia menderita TBC setiap tahun dan jutaan lainnya meninggal akibat penyakit ini. Indonesia bahkan menempati posisi kedua dunia dengan jumlah kasus TBC tertinggi setelah India. Fakta tersebut menunjukkan bahwa TBC bukan hanya persoalan medis, melainkan juga berkaitan erat dengan kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan ketahanan pangan masyarakat.

Selama ini, strategi penanggulangan TBC lebih banyak difokuskan pada penemuan kasus, pemeriksaan laboratorium, dan kepatuhan minum obat. Langkah tersebut memang penting karena pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan tinggi selama minimal enam bulan. Namun, ada satu aspek yang sering diperlakukan sebagai pelengkap, padahal sangat menentukan keberhasilan terapi, yaitu status gizi pasien.

Tubuh manusia membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup untuk melawan infeksi. Ketika seseorang mengalami kekurangan gizi, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah sehingga bakteri TBC lebih mudah berkembang. Sebaliknya, ketika seseorang sudah terkena TBC, kondisi tubuh biasanya semakin menurun akibat hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, kelelahan berkepanjangan, dan gangguan metabolisme tubuh. Akibatnya, pasien masuk dalam lingkaran yang berbahaya: kurang gizi meningkatkan risiko TBC, sementara TBC memperparah kondisi kurang gizi.

Inilah alasan mengapa gizi seharusnya menjadi bagian utama dalam strategi eliminasi TBC di Indonesia. Kesembuhan pasien tidak cukup hanya diukur dari keteraturan mengonsumsi obat, tetapi juga dari kemampuan tubuh untuk pulih kembali. Pasien yang memiliki status gizi baik cenderung lebih kuat menjalani pengobatan, lebih cepat membaik, dan memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah dibandingkan pasien dengan kondisi gizi buruk.

Sayangnya, persoalan gizi pada pasien TBC masih sering diabaikan dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari. Tidak sedikit pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dengan kondisi berat badan menurun drastis, tetapi hanya mendapatkan terapi obat tanpa pendampingan gizi yang memadai. Padahal, WHO telah menegaskan bahwa setiap pasien TBC seharusnya mendapatkan penilaian status gizi dan konseling makan sejak awal diagnosis hingga proses pengobatan selesai.

Pendekatan ini sangat relevan diterapkan di Indonesia, terutama pada masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Dalam banyak kasus, TBC muncul pada keluarga yang hidup dalam kondisi padat, sanitasi kurang baik, dan akses pangan bergizi yang terbatas. Karena itu, upaya pengendalian TBC seharusnya tidak hanya berfokus pada individu yang sakit, tetapi juga memperhatikan kondisi keluarga secara menyeluruh.

Di tingkat pelayanan primer, langkah tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan sederhana. Puskesmas dan kader kesehatan dapat memasukkan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, serta riwayat penurunan berat badan sebagai bagian dari layanan TBC rutin. Konseling makan berbasis pangan lokal juga perlu diperkuat agar pasien memahami pentingnya asupan protein, energi, vitamin, dan mineral selama masa pengobatan.

Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemulihan pasien TBC. Ikan, telur, tempe, tahu, kacang-kacangan, sayuran hijau, jagung, ubi, dan buah-buahan lokal merupakan sumber gizi yang baik dan relatif mudah dijangkau masyarakat. Edukasi tentang pengolahan makanan sehat perlu diberikan agar keluarga pasien dapat menyediakan makanan bergizi dengan biaya yang terjangkau.

Selain itu, dukungan sosial juga memiliki peran penting. Banyak pasien TBC mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan produktivitas kerja selama sakit. Dalam kondisi seperti ini, bantuan pangan atau program dukungan nutrisi dapat membantu pasien mempertahankan status gizinya selama menjalani pengobatan. Bila aspek ini diabaikan, risiko putus obat dan kegagalan terapi akan semakin tinggi.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki dasar hukum yang cukup kuat melalui Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Regulasi tersebut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya eliminasi TBC. Namun, tantangan terbesar terletak pada implementasi di lapangan. Program gizi dan program TBC masih sering berjalan sendiri-sendiri sehingga dampaknya belum optimal.

Ke depan, Indonesia perlu membangun pendekatan yang lebih terintegrasi melalui konsep “Gizi-TBC”. Pendekatan ini dapat mencakup skrining gizi sejak diagnosis awal, pemantauan berat badan selama terapi, edukasi makan sehat berbasis pangan lokal, hingga dukungan pangan bagi keluarga rentan. Dengan demikian, keberhasilan pengobatan tidak hanya dilihat dari hasil laboratorium, tetapi juga dari membaiknya kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

Media massa juga memiliki peran penting dalam mengubah cara pandang masyarakat terhadap TBC. Selama ini, stigma terhadap pasien TBC masih sangat tinggi. Banyak penderita merasa malu, takut dikucilkan, bahkan enggan memeriksakan diri karena khawatir mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Edukasi publik perlu menekankan bahwa TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan dan pasien membutuhkan dukungan, bukan diskriminasi.

Pada akhirnya, perang melawan TBC tidak cukup dilakukan hanya di ruang pemeriksaan atau laboratorium kesehatan. Perjuangan itu juga dimulai dari rumah, dari dapur keluarga, dan dari meja makan sehari-hari. Sepiring makanan bergizi bukan sekadar pelengkap terapi, tetapi bagian penting dari proses penyembuhan.

Jika Indonesia ingin serius mengakhiri TBC pada masa depan, maka intervensi gizi harus ditempatkan sebagai prioritas, bukan tambahan. Sebab, di balik setiap pasien TBC, ada kebutuhan dasar yang tidak boleh diabaikan: tubuh yang kuat, makanan yang layak, dan kehidupan yang lebih bermartabat.

  • Penulis: OMG

Komentar (2)

  • Teresa

    Terima kasih untuk edukasinya. Sukses selalu.

    Balas30 May 2026 4:11 am
  • Moody R

    Sebuah tulisan mengingatkan bahwa TBC tidak bisa disembuhkan hanya dengan obat jika tubuh pasien kekurangan gizi. Mengintegrasikan intervensi gizi ke dalam program eliminasi TBC adalah langkah krusial agar kesembuhan benar-benar tuntas, bukan hanya bakteri yang mati.

    Balas29 May 2026 7:18 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjelang Magrib 2 Full Teror! Ini Sinopsis Film Horor yang Tayang di ANTV Malam Ini

    Menjelang Magrib 2 Full Teror! Ini Sinopsis Film Horor yang Tayang di ANTV Malam Ini

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle OMG
    • visibility 11
    • 0Komentar

    onemediaglobal.web.id! Film horor Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah ANTV dijadwalkan menayangkan Menjelang Magrib 2 malam ini. Film yang dikenal dengan nuansa mistis dan teror mencekam tersebut ramai diperbincangkan di media sosial karena menghadirkan kisah horor penuh ketegangan dengan unsur ritual keji yang menyeramkan. Pencarian terkait “Sinopsis Menjelang Magrib 2”, “jadwal Menjelang Magrib 2 ANTV”, […]

  • “Gigi Sehat, Generasi Hebat! Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Manado Ajak Siswa SDN 126 Cegah Karies”

    “Gigi Sehat, Generasi Hebat! Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Manado Ajak Siswa SDN 126 Cegah Karies”

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle OMG
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Penulis: Novarita Mariana Koch, SST., M.Kes (Dosen Pengampu Mata Kuliah Penatalaksanaan Promosi Kesehatan Gigi) Semangat menjaga kesehatan gigi dan mulut ditanamkan sejak dini kepada siswa SDN 126 Manado melalui kegiatan penyuluhan kesehatan bertajuk “Gigi Sehat, Generasi Hebat!” yang melibatkan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Manado, Senin (10/8). Kegiatan tersebut dikemas secara interaktif dengan memberikan edukasi mengenai pentingnya […]

  • Inspirational Tales of Gadgets Changing Lives for the Better

    Inspirational Tales of Gadgets Changing Lives for the Better

    • calendar_month Rabu, 21 Feb 2024
    • account_circle OMG
    • visibility 273
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Senam Aerobic Low Impact dan Edukasi untuk Pengendalian Hipertensi di Desa Silian Satu

    Senam Aerobic Low Impact dan Edukasi untuk Pengendalian Hipertensi di Desa Silian Satu

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle OMG
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Penulis: Rolly Rondonuwu, Dorce Sisfiani Sarimin, Johana Tuegeh, Rommy Watuseke   Aktivitas fisik sederhana dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga kesehatan. Di Desa Silian Satu, senam aerobic low impact dipadukan dengan edukasi untuk meningkatkan kesadaran tentang hipertensi dan gaya hidup sehat. Hipertensi sering datang tanpa keluhan yang jelas. Seseorang dapat merasa sehat dan tetap […]

  • PALAKAT!!! Legislator CEP Minta APH Tindak Tegas Mafia BBM di Sulut

    PALAKAT!!! Legislator CEP Minta APH Tindak Tegas Mafia BBM di Sulut

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Baladewa Setlight
    • visibility 34
    • 0Komentar

    MANADO – Anggota DPR RI Komisi VI Christiany Eugenia Paruntu (CEP) secara tegas meminta Aparat Penegak Hukum (APH) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menindak tegas mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) yang beroperasi di sejumlah daerah Tanah Bumi Nyiur Melambai. Legislator Fraksi Partai Golkar tersebut mengatakan bahwa pemerintah berupaya agar BBM tepat sasaran, namun masih ada […]

  • MEP dan DPD Partai Golkar Bawa Santunan untuk Keluarga Almarhum Pricilia Tamawiwy

    MEP dan DPD Partai Golkar Bawa Santunan untuk Keluarga Almarhum Pricilia Tamawiwy

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Baladewa Setlight
    • visibility 49
    • 0Komentar

    MANADO – Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut) Michaela Elsiana Paruntu, menyampaikan ungkapan duka yang mendalam atas berpulangnya Pricilia Tamawiwy (34), korban musibah kebakaran Mega Mall Manado. Dalam suasana penuh haru di rumah duka yang berlokasi di Kima Atas, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Selasa (19/5/2026) pagi, MEP menegaskan bahwa kehadiran dirinya bersama jajaran […]

expand_less