Poltekkes Manado Kembangkan POLADUMANSIA untuk Kendalikan Diabetes di Mandolang
- account_circle OMG
- calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
- visibility 78
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penulis:
Ns. Nurseha Djaafar, S.Pd., S.Kep., M.Kes., Jane A. Kolompoy, SKM., M.Kes., Herlina P. Memah, SKM., M.Kes., Ni Luh Jayanthi Desyani, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB.
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Manado mengembangkan Paket Pelayanan Terpadu Mandiri Lansia (POLADUMANSIA) sebagai salah satu upaya memperkuat pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 berbasis masyarakat di Desa Kalasey I dan Desa Kalasey II, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Program tersebut dilaksanakan melalui Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan melibatkan kader kesehatan, masyarakat lanjut usia, penderita Diabetes Melitus Tipe 2, pemerintah desa, Puskesmas Tateli, tenaga kesehatan, dosen, mahasiswa, serta pihak terkait lainnya.
Kegiatan ini diketuai Ns. Nurseha Djaafar, S.Pd., S.Kep., M.Kes., bersama anggota tim Jane A. Kolompoy, SKM., M.Kes., Herlina P. Memah, SKM., M.Kes., dan Ni Luh Jayanthi Desyani, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB. Tim juga melibatkan mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan.
Perkuat Peran Kader Kesehatan
Pengembangan Paket POLADUMANSIA diarahkan untuk memperkuat peran kader kesehatan dalam memberikan edukasi, konseling, pemantauan faktor risiko, serta pendampingan masyarakat dalam pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2.
Program ini dilaksanakan melalui pelatihan kader, penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, diskusi, dan pendampingan. Kader kemudian diarahkan untuk menjadi penggerak edukasi kesehatan dan pendamping masyarakat dalam menerapkan perilaku pengendalian diabetes.
Materi dalam Paket POLADUMANSIA mencakup edukasi mengenai pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pemantauan kadar gula darah, kepatuhan terhadap pengobatan, hingga upaya pencegahan komplikasi.
Selain itu, paket tersebut memberikan keterampilan perawatan kaki diabetik. Kader dan masyarakat mendapatkan panduan mengenai pemeriksaan kaki, menjaga kebersihan dan kelembapan kulit, perawatan kuku, pemilihan alas kaki yang aman, serta mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

Dari Senam Kaki hingga Berkebun
Salah satu kegiatan utama dalam program tersebut adalah praktik senam kaki diabetik, rendam kaki, dan massage kaki. Kegiatan juga dipadukan dengan edukasi-produktif berupa teknik berkebun.
Pelaksanaan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, kader mendapatkan edukasi bersama tenaga profesional. Tahap berikutnya, kader memberikan edukasi dengan supervisi dosen dan tenaga kesehatan Puskesmas. Pada tahap ketiga, kader diarahkan untuk mampu memberikan edukasi secara mandiri.
Model tersebut dirancang agar pengetahuan dan keterampilan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diteruskan melalui kelompok pengembang POLADUMANSIA di tingkat masyarakat.
Kegiatan juga menggunakan pendekatan Interprofessional Education (IPE) dan Interprofessional Collaboration (IPC) dengan melibatkan unsur kesehatan dari berbagai bidang. Puskesmas, dosen Poltekkes Kemenkes Manado, tenaga medis, laboran, tenaga promosi kesehatan, keperawatan dan gizi turut berkontribusi dalam edukasi dan pendampingan kader. Tim penyuluh dari Dinas Pertanian Minahasa juga terlibat dalam kegiatan berkebun.
Diikuti 30 Peserta
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 23–25 Juli 2026, pukul 08.00–16.00 WITA, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Sasaran kegiatan mencakup kader kesehatan, lansia, dan penderita Diabetes Melitus Tipe 2.
Program diawali dengan sosialisasi, dilanjutkan pelatihan kader, pre-test dan post-test, edukasi dan konseling, serta praktik senam kaki, rendam kaki dan massage kaki diabetik.
Dalam pelaksanaan kelas POLADUMANSIA, peserta dibagi dalam kelompok. Kader memperoleh kesempatan mempraktikkan materi edukasi menggunakan media lembar balik yang terdiri atas tujuh seri. Model tersebut dirancang agar setiap kader memiliki kesempatan menerapkan berbagai media edukasi yang tersedia.

Pengetahuan Peserta Meningkat
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan positif pada sejumlah indikator setelah kegiatan.
Pada aspek pengetahuan, sebelum intervensi terdapat 17 peserta atau 56,7 persen yang berada dalam kategori kurang baik dan 13 peserta atau 43,3 persen dalam kategori baik.
Setelah kegiatan, jumlah peserta dengan pengetahuan baik meningkat menjadi 23 orang atau 76,7 persen, sementara kategori kurang baik turun menjadi 7 orang atau 23,3 persen. Dengan demikian, secara deskriptif terdapat peningkatan proporsi pengetahuan baik sebesar 33,4 poin persentase.
Perubahan juga terlihat pada tekanan darah. Sebelum kegiatan, sebanyak 11 peserta atau 36,7 persen memiliki tekanan darah terkontrol, sedangkan 19 peserta atau 63,3 persen belum terkontrol.
Setelah kegiatan, peserta dengan tekanan darah terkontrol meningkat menjadi 16 orang atau 53,3 persen, sementara tekanan darah tidak terkontrol turun menjadi 14 orang atau 46,7 persen.

Kadar Gula Darah Menunjukkan Perubahan
Evaluasi terhadap kadar gula darah juga menunjukkan perubahan secara deskriptif.
Sebelum kegiatan, terdapat 14 peserta atau 46,7 persen dengan kadar gula darah terkendali dan 16 peserta atau 53,3 persen dengan kadar gula darah tidak terkendali.
Setelah intervensi, peserta dengan kadar gula darah terkendali meningkat menjadi 17 orang atau 56,7 persen, sedangkan peserta dengan kadar gula darah tidak terkendali menurun menjadi 13 orang atau 43,3 persen. Perubahan tersebut menunjukkan peningkatan proporsi kadar gula darah terkendali sebesar 10 poin persentase.
Tim pengabdi menekankan bahwa perubahan tersebut merupakan gambaran deskriptif sebelum dan sesudah kegiatan. Perubahan kadar gula darah maupun tekanan darah tidak dapat secara langsung dinyatakan sebagai akibat tunggal dari intervensi karena terdapat berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. Laporan juga merekomendasikan pemantauan lebih panjang dan pemeriksaan yang lebih terstandar untuk memperoleh gambaran yang lebih kuat.
Dorong Keberlanjutan melalui Posbindu
Program POLADUMANSIA tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan pelatihan, tetapi juga pada pembentukan kelompok pengembang yang dapat melanjutkan kegiatan melalui Posbindu PTM.
Kader kesehatan diharapkan dapat menjalankan peran sebagai edukator dan pendamping, sementara Kelompok Pengembang POLADUMANSIA menjadi wadah keberlanjutan upaya pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 di Desa Kalasey I dan Desa Kalasey II.
Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan kesehatan, pemerintah desa, Puskesmas, kader, masyarakat dan berbagai unsur terkait, Poltekkes Kemenkes Manado mendorong penguatan pengendalian penyakit tidak menular yang lebih dekat dengan masyarakat.
Program tersebut sekaligus menempatkan kader sebagai bagian penting dalam edukasi dan pendampingan masyarakat, sehingga upaya pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas.

Poltekkes Kemenkes Manado — Mengabdi, Memberdayakan, dan Bersama Masyarakat Mewujudkan Hidup Sehat.
- Penulis: OMG

Saat ini belum ada komentar