Meneladani Florence Nightingale, Dies Natalis ke-43 JurKep Poltekkes Manado Dorong Inovasi
- account_circle OMG
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- visibility 49
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Onemediaglobal.web.id! MANADO — Dies Natalis ke-43 Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Manado resmi dimulai pada Senin, 31 Agustus 2026. Mengusung tagline “Smart Campus to Drive Innovation”, perayaan tahun ini menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan pendidikan keperawatan sekaligus memperkuat komitmen terhadap inovasi dan transformasi pendidikan kesehatan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan jalan sehat pada pukul 05.30 WITA yang diikuti oleh sivitas akademika Jurusan Keperawatan. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa bersama-sama mengikuti kegiatan tersebut dalam suasana kebersamaan yang menjadi bagian penting dari perayaan Dies Natalis ke-43.
Jalan sehat tidak hanya menjadi kegiatan pembuka, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarsivitas akademika. Kebersamaan tersebut menjadi bagian dari semangat membangun lingkungan pendidikan keperawatan yang sehat, kolaboratif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan pelayanan kesehatan.

Usai jalan sehat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan acara pembukaan Dies Natalis ke-43. Pembukaan secara simbolis ditandai dengan bunyi tetengkoren, yang menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian perayaan Dies Natalis Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Manado.
Acara pembukaan dihadiri Direktur Poltekkes Kemenkes Manado, Dr. Hanung Prasetia, S.Kp., M.Si., Wakil Direktur I Bidang Akademik, Semuel Tambuwun, SKM., M.Kes., Ketua Jurusan Keperawatan Maykel A. Killing, S.Pd, S.Kep, Ns, M.Kep, Sekretaris Jurusan Keperawatan Rolly H. S. Rondonuwu, S.Kep, Ners, M.Kep, Sp.KMB, para Ketua Program Studi di lingkungan Jurusan Keperawatan, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.
Dalam sambutannya, Direktur Poltekkes Kemenkes Manado, Dr. Hanung Prasetia, S.Kp., M.Si., secara resmi membuka rangkaian Dies Natalis ke-43. Dalam kesempatan tersebut, Beliau turut mengingatkan kembali sosok Florence Nightingale, tokoh yang dikenal memiliki peran besar dalam perkembangan keperawatan modern.
Penyebutan Florence Nightingale menjadi bagian penting dalam momentum Dies Natalis karena sejarah perkembangan keperawatan tidak hanya berbicara mengenai keterampilan memberikan asuhan kepada pasien. Keperawatan juga tumbuh melalui pendidikan, disiplin, kepedulian terhadap lingkungan, profesionalisme, pengabdian, serta komitmen terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Keteladanan Florence Nightingale dengan demikian dapat dimaknai secara lebih luas dalam konteks pendidikan keperawatan saat ini. Semangat untuk meningkatkan kualitas pelayanan, mengembangkan pengetahuan, serta menempatkan kepentingan manusia sebagai bagian utama dari praktik keperawatan tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Tantangan Keperawatan di Era Transformasi Digital
Perkembangan teknologi kesehatan telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan maupun pelayanan kesehatan. Digitalisasi, pemanfaatan data, kecerdasan buatan, telehealth, serta berbagai inovasi teknologi menuntut tenaga kesehatan untuk memiliki kemampuan beradaptasi yang semakin tinggi.
Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi pendidikan keperawatan. Institusi pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan klinis, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Semangat inilah yang kemudian tercermin melalui tagline “Smart Campus to Drive Innovation.”
Konsep smart campus tidak semata-mata dimaknai sebagai pemanfaatan perangkat atau teknologi digital dalam lingkungan kampus. Lebih jauh, smart campus merupakan upaya membangun ekosistem pendidikan yang mampu memanfaatkan teknologi dan sumber daya secara efektif untuk mendukung pembelajaran, pelayanan akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi.
Dalam konteks pendidikan keperawatan, transformasi tersebut diharapkan dapat menciptakan proses pembelajaran yang semakin adaptif dan relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masa depan.
Mahasiswa sebagai Penggerak Inovasi
Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mewujudkan semangat tersebut. Sebagai generasi penerus tenaga keperawatan, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi tenaga kesehatan yang kompeten secara klinis, tetapi juga diharapkan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan penggerak perubahan.
Lingkungan akademik yang mendorong kreativitas dan inovasi dapat memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan baru dalam bidang keperawatan. Inovasi tersebut dapat berkembang melalui pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pemanfaatan teknologi untuk mendukung pelayanan kesehatan.
Dosen dan tenaga kependidikan juga memiliki peran penting dalam membangun ekosistem tersebut. Kolaborasi antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa menjadi fondasi untuk menciptakan lingkungan akademik yang terbuka terhadap perubahan dan mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Dengan demikian, Dies Natalis ke-43 tidak hanya menjadi perayaan bertambahnya usia Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Manado. Momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus mempersiapkan langkah menghadapi tantangan pendidikan dan pelayanan kesehatan pada masa mendatang.

Dari Keteladanan Menuju Inovasi
Meneladani Florence Nightingale dalam konteks kekinian tidak berarti sekadar mengingat sejarah perkembangan keperawatan. Keteladanan tersebut dapat diwujudkan melalui komitmen untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, menjaga profesionalisme, serta menghadirkan perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Semangat tersebut menjadi semakin relevan ketika pendidikan keperawatan memasuki era transformasi digital. Kemajuan teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat kualitas pendidikan dan pelayanan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar profesi keperawatan.
Karena itu, tagline “Smart Campus to Drive Innovation” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan dalam rangkaian Dies Natalis. Semangat tersebut diharapkan menjadi bagian dari budaya akademik yang mendorong seluruh sivitas akademika untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya yang memberikan dampak nyata.
Bunyi tetengkoren yang menandai pembukaan Dies Natalis ke-43 menjadi simbol dimulainya sebuah rangkaian perayaan sekaligus pengingat bahwa perjalanan pendidikan keperawatan terus bergerak. Dari sejarah dan keteladanan Florence Nightingale, semangat tersebut diteruskan melalui pendidikan, profesionalisme, kolaborasi, dan inovasi.
Dies Natalis ke-43 akhirnya menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan, merawat kebersamaan, memperkuat mutu pendidikan, dan mendorong inovasi. Dengan semangat Smart Campus to Drive Innovation, Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Manado diharapkan semakin siap menghadirkan pendidikan keperawatan yang adaptif, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta tantangan pelayanan kesehatan di masa depan.
- Penulis: OMG


Saat ini belum ada komentar