“Deteksi Dini Kesehatan Jadi Pintu Masuk Membangun Kampus Sehat”
- account_circle OMG
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penulis:
Atik Purwandari, SKM., S.Tr.Keb., M.Kes. sebagai ketua, bersama Sandra G.J. Tombokan, S.SiT., S.Pd., M.Kes. dan Sjenny Tuju, SKM., S.Tr.Keb., M.Kes. sebagai anggota.
Lebih dari separuh mahasiswa yang mengikuti skrining kesehatan di Poltekkes Kemenkes Manado berada dalam kategori pra-hipertensi. Dari 165 mahasiswa yang diperiksa, sebanyak 87 orang atau 52,7 persen masuk kategori tersebut.
Temuan itu menjadi salah satu hasil utama kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) tahun 2026 yang dilaksanakan tim dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Manado pada 8 Juni 2026.
Kegiatan bertajuk “Skrining Terpadu Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular pada Remaja Putri melalui Pemeriksaan Kesehatan Dasar” tersebut melibatkan mahasiswa dari enam program studi. Skrining dirancang sebagai upaya promotif dan preventif untuk mengenali faktor risiko kesehatan sejak usia muda.
Pra-hipertensi menjadi temuan terbesar
Pemeriksaan tekanan darah menunjukkan 87 mahasiswa atau 52,7 persen berada pada kategori pra-hipertensi. Selain itu, terdapat 23 mahasiswa (13,9 persen) dengan hipertensi ringan, dua mahasiswa (1,2 persen) hipertensi sedang, dan satu mahasiswa (0,6 persen) hipertensi berat.
Sementara itu, 52 mahasiswa atau 31,5 persen berada dalam kategori tekanan darah normal.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena faktor risiko kesehatan kardiovaskular sudah terlihat pada kelompok mahasiswa. Hasil skrining ini sekaligus memperkuat perlunya pemeriksaan kesehatan secara berkala, disertai edukasi mengenai pola makan, aktivitas fisik, pengendalian berat badan, dan pemantauan tekanan darah.
Namun, hasil tersebut merupakan hasil skrining, bukan diagnosis individual. Karena itu, temuan yang berisiko perlu ditindaklanjuti sesuai rekomendasi kesehatan yang diberikan.
Anemia juga ditemukan pada 65 mahasiswa
Selain tekanan darah, pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) menemukan 65 mahasiswa mengalami anemia. Sebanyak 32 mahasiswa (19,4 persen) berada pada kategori anemia ringan, 31 mahasiswa (18,8 persen) anemia sedang, dan dua mahasiswa (1,2 persen) anemia berat.
Sebanyak 100 mahasiswa atau 60,6 persen memiliki kadar hemoglobin dalam kategori normal.
Anemia juga ditemukan pada hampir seluruh program studi yang mengikuti pemeriksaan. Temuan ini menjadi bagian dari materi edukasi dalam kegiatan, terutama mengenai gizi seimbang, sumber makanan kaya zat besi, dan pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD).
Pendekatan tersebut membuat kegiatan tidak berhenti pada pemeriksaan. Peserta juga memperoleh informasi mengenai hasil pemeriksaan dan rekomendasi tindak lanjut apabila ditemukan kondisi yang berisiko.

Risiko KEK dan prediabetes turut teridentifikasi
Pemeriksaan status gizi menggunakan Lingkar Lengan Atas (LiLA) juga menemukan 22 mahasiswa atau 13,3 persen berada dalam kategori risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Sebanyak 143 mahasiswa atau 86,7 persen berada dalam kategori normal.
Risiko KEK ditemukan pada beberapa program studi, termasuk Sarjana Terapan Kebidanan, Sarjana Terapan Promosi Kesehatan, dan Sarjana Terapan Keperawatan.
Pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu, sebagian besar peserta berada dalam kategori normal. Sebanyak 163 mahasiswa atau 98,8 persen berada pada kategori normal, sedangkan dua mahasiswa atau 1,2 persen berada pada kategori prediabetes.
Hasil tersebut menjadi dasar penguatan edukasi mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, pengendalian berat badan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala sejak usia muda.
Kesehatan gigi tak luput dari pemeriksaan
Skrining juga mencakup pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut bagi peserta yang mendapatkan pemeriksaan tersebut.
Dari 43 mahasiswa yang mengikuti pemeriksaan karies gigi, sebanyak 34 mahasiswa atau 79,1 persen ditemukan mengalami karies. Sementara sembilan mahasiswa atau 20,9 persen tidak mengalami karies.
Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut juga perlu mendapat perhatian. Edukasi yang diberikan mencakup kebersihan gigi dan mulut, pembatasan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta pemeriksaan gigi secara berkala.

Skrining dilanjutkan dengan edukasi kesehatan
Kegiatan tidak hanya berfokus pada pengukuran tekanan darah, status gizi, Hb, glukosa darah, serta kesehatan gigi. Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai Penyakit Tidak Menular (PTM), pola makan sehat, aktivitas fisik, gizi seimbang, anemia, kesehatan reproduksi, dan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI).
Evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam melakukan SADARI. Edukasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dalam mengenali kondisi tubuh dan melakukan deteksi dini terhadap perubahan yang perlu mendapatkan perhatian tenaga kesehatan.
Dengan demikian, pemeriksaan kesehatan ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun literasi kesehatan, bukan sekadar kegiatan pengumpulan hasil pemeriksaan.
Enam program studi terlibat secara multidisiplin
Sebanyak 165 mahasiswa yang mengikuti kegiatan berasal dari enam program studi, yaitu D3 Kebidanan 34 mahasiswa, D3 Keperawatan 24 mahasiswa, D3 Kesehatan Gigi 34 mahasiswa, Sarjana Terapan Kebidanan sembilan mahasiswa, Sarjana Terapan Keperawatan 55 mahasiswa, dan Sarjana Terapan Promosi Kesehatan sembilan mahasiswa.
Keterlibatan enam program studi tersebut memberikan pendekatan multidisiplin dalam melihat kondisi kesehatan mahasiswa. Mahasiswa juga dilibatkan secara aktif, sementara pihak kampus mendukung penyediaan lokasi, sarana, penyebaran informasi, serta fasilitasi relawan pemeriksa dan edukator.
Kegiatan Pengabmas ini dilaksanakan oleh tim dosen Poltekkes Kemenkes Manado yang terdiri dari Atik Purwandari, SKM., S.Tr.Keb., M.Kes. sebagai ketua, bersama Sandra G.J. Tombokan, S.SiT., S.Pd., M.Kes. dan Sjenny Tuju, SKM., S.Tr.Keb., M.Kes. sebagai anggota.
Dari hasil skrining menuju Kampus Sehat
Bagi tim Pengabmas, hasil skrining menjadi dasar untuk mendorong penguatan program Kampus Sehat. Rekomendasi yang diberikan mencakup pemeriksaan kesehatan mahasiswa secara berkala, edukasi perubahan gaya hidup, serta rujukan ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan.
Materi edukasi digital yang telah dikembangkan juga dapat dimanfaatkan kampus dalam kegiatan pembinaan mahasiswa atau Unit Kesehatan Mahasiswa (UKM).
Tim bahkan menggagas pembentukan “Sahabat Sehat Kampus”, sebuah komunitas yang dapat digerakkan oleh mahasiswa dan alumni untuk mendukung keberlanjutan kegiatan promotif dan preventif di lingkungan kampus.
Temuan pra-hipertensi, anemia, risiko KEK, prediabetes, dan karies gigi memberikan gambaran awal mengenai berbagai faktor kesehatan yang ditemukan pada peserta skrining. Data tersebut dapat menjadi pijakan untuk merancang program kesehatan mahasiswa secara lebih terarah.
Pada akhirnya, skrining kesehatan tidak berhenti pada angka hasil pemeriksaan. Tujuan yang lebih luas adalah membangun kebiasaan untuk mengenali kondisi kesehatan, melakukan deteksi dini, dan mengambil langkah tindak lanjut.
“Skrining hari ini adalah investasi kesehatan untuk masa depan. Dari kampus sehat, diharapkan lahir calon tenaga kesehatan yang sehat, sadar kesehatan, dan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.”

- Penulis: OMG

Saat ini belum ada komentar