Pemberdayaan Masyarakat Desa Tambala: Langkah Nyata Mencegah Diabetes Melitus Melalui Edukasi dan Deteksi Dini
- account_circle OMG
- calendar_month Senin, 29 Jun 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penulis:
Janbonsel Bobaya, John Ransum, Hendrik Damping
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Manado
Diabetes Melitus (DM) telah menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Penyakit yang sering dijuluki sebagai silent killer ini berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga banyak penderita baru menyadari kondisinya ketika telah mengalami berbagai komplikasi. Tidak hanya menjadi masalah di wilayah perkotaan, diabetes kini juga semakin banyak ditemukan di daerah pedesaan seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat. Berkurangnya aktivitas fisik, meningkatnya konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kebiasaan hidup yang kurang sehat, serta rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan prevalensi penyakit ini.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di Desa Tambala, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai faktor risiko, gejala, pencegahan, maupun pengendalian Diabetes Melitus. Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin juga masih relatif rendah, sehingga risiko keterlambatan diagnosis cukup tinggi. Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat bersama mahasiswa Program Studi Diploma Tiga Keperawatan melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan edukasi kesehatan dengan pemeriksaan kesehatan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat sekaligus melakukan deteksi dini terhadap faktor risiko Diabetes Melitus.
Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah akibat gangguan produksi insulin, gangguan kerja insulin, atau kombinasi keduanya. Apabila kadar gula darah tidak dikendalikan secara optimal, penyakit ini dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal kronis, kerusakan saraf, gangguan penglihatan hingga kebutaan, bahkan amputasi pada anggota tubuh. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi strategi yang jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika komplikasi telah terjadi.
Data kesehatan nasional menunjukkan bahwa jumlah penderita Diabetes Melitus di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Provinsi Sulawesi Utara bahkan termasuk salah satu daerah dengan prevalensi Diabetes Melitus yang relatif tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Kondisi tersebut menegaskan bahwa upaya promotif dan preventif harus terus diperkuat melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tambala dirancang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses peningkatan kesehatan. Program ini tidak hanya memberikan informasi mengenai Diabetes Melitus, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan.

Materi edukasi yang diberikan difokuskan pada tiga aspek penting dalam pengelolaan Diabetes Melitus. Pertama, pentingnya aktivitas fisik dan olahraga secara teratur sebagai salah satu cara meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengendalikan kadar gula darah. Kedua, penerapan pola makan sehat berdasarkan prinsip 3J, yaitu pengaturan jumlah makanan, jenis makanan, dan jadwal makan yang tepat untuk menjaga kestabilan kadar glukosa darah. Ketiga, edukasi mengenai penggunaan obat Diabetes Melitus secara benar serta pentingnya kepatuhan menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Seluruh materi disampaikan melalui penyuluhan interaktif yang didukung dengan media leaflet sehingga peserta lebih mudah memahami sekaligus menerapkan informasi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
Selain edukasi, masyarakat juga memperoleh pelayanan pemeriksaan kesehatan secara gratis yang meliputi pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS), tekanan darah, berat badan, tinggi badan, serta perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi masyarakat yang memiliki faktor risiko Diabetes Melitus maupun penyakit tidak menular lainnya sehingga dapat memperoleh tindak lanjut pelayanan kesehatan sedini mungkin sebelum muncul komplikasi yang lebih berat.
Pelaksanaan kegiatan menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan mulai dari senam bersama, penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, hingga pemeriksaan kesehatan. Kegiatan berlangsung dengan lancar berkat dukungan pemerintah desa, tenaga kesehatan, dosen, mahasiswa, serta partisipasi aktif masyarakat.
Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa masih ditemukan beberapa warga dengan tekanan darah di atas batas normal serta kadar gula darah sewaktu yang tinggi. Bahkan terdapat peserta dengan kadar gula darah mencapai 250 mg/dL yang memerlukan pemeriksaan lanjutan dan penanganan medis lebih lanjut. Temuan tersebut menjadi bukti bahwa masih terdapat masyarakat yang memiliki risiko tinggi mengalami Diabetes Melitus namun belum teridentifikasi sebelumnya. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya pelaksanaan skrining kesehatan secara berkala di tingkat masyarakat.
Keberhasilan program tidak hanya terlihat dari hasil pemeriksaan kesehatan, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai Diabetes Melitus. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta setelah mengikuti kegiatan edukasi. Skor kumulatif meningkat dari 971 pada saat pre-test menjadi 1036 pada post-test. Rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 80,5% menjadi 86,5%, sikap meningkat dari 80,25% menjadi 86,75%, sedangkan aspek keterampilan atau psikomotorik meningkat dari 79,5% menjadi 85,75%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang dilakukan secara langsung mampu meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup yang lebih sehat.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga memberikan pengalaman pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa D3 Keperawatan. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah dalam situasi nyata di masyarakat. Mereka belajar melakukan komunikasi terapeutik, memberikan edukasi kesehatan, melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, serta membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk kompetensi profesional calon tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara komprehensif.
Pencegahan Diabetes Melitus tidak dapat hanya mengandalkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan, melainkan harus dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat melalui perubahan perilaku hidup sehat. Masyarakat didorong untuk membiasakan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, menjaga berat badan ideal, menghentikan kebiasaan merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi individu yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan di Desa Tambala membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat mampu memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Program pemberdayaan seperti ini bukan hanya berperan dalam mendeteksi masyarakat yang berisiko mengalami Diabetes Melitus sejak dini, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa pencegahan merupakan investasi kesehatan yang jauh lebih efektif dibandingkan penanganan komplikasi penyakit.
Melalui edukasi yang berkesinambungan, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta komitmen seluruh elemen masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, diharapkan angka kejadian Diabetes Melitus dapat ditekan sehingga masyarakat mampu menjalani kehidupan yang lebih sehat, produktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang semakin baik. Program ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan strategi yang efektif dalam membangun budaya hidup sehat sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. (2023). Standards of Medical Care in Diabetes-2023. Diabetes Care Journal.
American Diabetes Association. (2024). Standards of Medical Care in Diabetes 2024. Diabetes Care Journal.
Brunner, & Suddarth. (2018). Medical-Surgical Nursing. Philadelphia: Lippincott.
International Diabetes Federation. (2021). IDF Diabetes Atlas (10th ed.). Brussels: IDF.
International Diabetes Federation. (2023). IDF Diabetes Atlas. Brussels: IDF.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Buku Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian Diabetes Melitus. Jakarta: Kemenkes RI.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2021). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta: PERKENI.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2018). Textbook of Medical-Surgical Nursing. Philadelphia: Lippincott.
- Penulis: OMG

Saat ini belum ada komentar